LUKA BERTEMU DOA: Puisi Balada Supardi AR
Balada yang Menyuarakan Luka, Menyalakan Ingatan
Puisi-puisi balada karya Supardi AR memperlihatkan bahwa puisi dapat menjadi ruang perjumpaan antara kisah, sejarah, dan kritik sosial. Melalui tokoh-tokoh yang sederhana, penyair menghadirkan pergulatan manusia yang akrab dengan kehidupan sehari-hari: kemiskinan, kehilangan, kekuasaan, dan harga diri. Balada tidak berhenti sebagai cerita, melainkan berkembang menjadi cermin yang memantulkan kenyataan zaman.
Dalam "Luka Bertemu Doa", sosok Soponyono menjadi lambang manusia kecil yang memikul beban hidup dalam sunyi. Penyair menghadirkan kemiskinan bukan sekadar sebagai keadaan ekonomi, melainkan sebagai luka batin yang perlahan menggerus martabat seseorang. Diksi-diksi yang padat dan metaforis membuat penderitaan terasa hidup tanpa kehilangan keindahan bahasa.
Sementara itu, "Balada Nyai Bagelen" menunjukkan kepiawaian penyair mengolah legenda dan sejarah lokal menjadi sindiran yang relevan terhadap kehidupan masa kini. Tokoh, peristiwa, dan simbol-simbol budaya dirangkai menjadi kritik yang halus terhadap kekuasaan, ketidakadilan, dan mudahnya suara rakyat diabaikan. Masa lalu dan masa kini seolah berdialog dalam satu tarikan napas.
Yang menarik dari kedua balada ini adalah keberpihakan penyair kepada mereka yang sering luput dari perhatian. Supardi AR tidak mengangkat tokoh-tokoh besar, tetapi justru menghadirkan manusia-manusia biasa yang menyimpan luka, harapan, dan keteguhan. Melalui mereka, pembaca diajak melihat bahwa di balik setiap kisah sederhana tersimpan persoalan kemanusiaan yang tidak pernah kehilangan maknanya.
Membaca kedua puisi ini adalah memasuki ruang yang penuh imaji sekaligus perenungan. Penyair tidak menawarkan jawaban, tetapi mengajak pembaca mendengar suara-suara yang sering tenggelam oleh hiruk-pikuk kehidupan. Di situlah letak kekuatan balada-balada Supardi AR: ia tidak hanya bercerita, tetapi juga menghidupkan empati dan kesadaran.
soponyono soponyono
bangun bangunlah
naik titilah reronce butiran kayu
jelajahi sunyinya malam
atas hening mantra pintamu
luka bertemu doa
malam sepertinya membuka pintu sengsara
soponyono menatap tikar lusuhnya
saat luka bertemu doa
ketika langit bocor meneteskan abu
nampak olehnya anak tidur memeluk televisi menyala
“bapak terlalu lama membawa sengsara!”
teriakan pecah dekat tungku menggigil
bau hutang mengeram di sekujur dinding dapur
soponyono soponyono
langkahmu tinggalkan bunyi sandal tuamu
"lelaki gagal memelihara bagian ruang hatinya"
kampung terbahakbahak lihat bongkok pundakmu
mulutmulut warung ramai menanak kabar busuk
seiring luka bertemu doa
nampak seekor gagak hinggap di bibir sumur tua
subuh datang tanpa kokok ayam
anak terlihat sibuk membagi almari tua
manakala luka bertemu doa
tak seorangpun mencari napas soponyono
roncean butir kayu tergantung di sisi jendela bambu
bergerak disentuh angin dingin
sunyi tersenyum memeluk soponyono paling akhir
LUKA BERTEMU DOA
klepurba, 25052026
Sri Panuwun pindah tahta bagai pejabat mutasi
kursi ditinggal, janji pun basi
Pangeran Awu Awu Langit naik panggung lagi
seolaholah rakyat cukup diberi nasi
Nyai Bagelen menenun dengan tenang menenun rajut
seperti rakyat menambal perut
ketan wulung tumbuh kedelai dijaga
tapi panen tak pernah setara dengan harga
selasa wage datang bagai rapat paripurna
anakanak riang belum tahu derita
Nyai Bagelen tetap menenun menunggu laba
tibatiba lembu menyusu sang janin lenyap sudah
oh apa beda bayi dan sapi?
di negeri gelap semua bisa diganti
susu pun bisa jadi pakan sapi
kebenaran dipelintir jadi hiburan bagi rakyat
suami memilih ketan sehitam pawarta
jawabannya hambar kosong makna
lihatlah lihatlah Nyai Bagelen murka amarahnya meronta
seperti rakyat mendobrak aturan buta
alat tenun mendorong lumbung bobrok
beras kedelai berhamburan retak jatuh di
desa Ketesan Wingko Tinumpuk mengingat
bahwa ladang subur bisa berubah laknat
oh di lumbung roboh anakanak jadi korban
rakyat kecil tumbang dalam putusan
Nyai Bagelen menjerit sejarah pun rawan
suara perempuan tak pernah didengar oleh zaman
Pangeran Awu Awu Langit pilih pulang
tinggalkan Bagelen dalam riwayat malang
elita berlari rakyat pun dipasung
kisah lama begitu terasa kini tersambung
tibatiba kabar duka datang suami meregang nyawa
kematian memang selalu milik orang biasa
ketan wulung jadi debu di udara
kedelai membusuk di tanah sengsara
Nyai Bagelen mewariskan pantangan nan getir
hari Wage disumpah sebagai hari getir
tak boleh jual beli tak boleh pesta
rakyat dicegah merayakan merdeka
“anakku Gento,” katanya getir
“ingatlah wage, ingatlah getir
perdagangan bisa runtuh sekejap
jika nasib dikendalikan kuasa gelap
jangan percaya pada pasar rasa buta
jangan ikuti pesta penguasa semu belaka
biarlah pantangan jadi pedoman
lebih baik miskin daripada dipermainkan”
pantang menanam kedelai pantang memelihara lembu
seakan semua aturan turun dari langit abuabu
padahal itu hanya tafsir luka perempuan
dijadikan hukum demi ketertiban
kain lurik pun jadi larangan keras
kebaya gadung melati dituding panas
kemben bangau tulis disamakan dosa
seperti tubuh perempuan diadili negara
Nyai Bagelen masuk kamar bagai oposisi
dihapus tanpa suara hilang dari kursi
murca tanpa jejak sejarah sunyi
seperti rakyat miskin dihapus dari sensus negeri
bau anyir tinggal catatan retak
nama perempuan dibekukan hidup kaku
orang ternganga lidahnya beku
tapi kekuasaan menulis kisah baru
Raden Bagus Gento warisi sumpah pahit
memimpin Bagelen dengan pantangan sempit
tiap wage dicegah tiap pasar ditutup
takut bencana dan mereka takut hukum disusun dengan semu
padahal wage hanya hitungan hari
celaka adalah lupa diri
balada bagelen jadi kitab aturan
dari air mata lahirlah ketertiban
wahai tanah bagelen tanah sumpah serapah
kisahmu tetap hidup di setiap pasrah
antara tenun lumbung dan harga murah
antara pejabat lari dan rakyat kalah
metamora menggulung zaman tak berubah
sapi jadi bayi hukum jadi darah
balada Nyai Bagelen tak lain satir nyata
dari masa lalu hingga hari kita
PEDHET KETAN WULUNG
: balada nyai bagelen
klepurba, 22.08.2025
sabtu pahing tersipu malu langit pajang menunduk rindu di depan tahta
sang Sultan duduk jemarinya memelintir amarah
berikan aku sesosok gadis pengusir lelah untukku
jangan bekas sebab cinta harus baru bukan bersisa
sang adipati mengangguk tidak membantah angin
Rara Sukartiyah sang putri
dengan kesetiaan ia peluk kesunyian perawan
diberangkatkan beriring lampu minyak serta harapan
meski ia pernah terjebak dalam nikah tanpa sentuhan
tibatiba: apa arti sunyi bagi telinga istana?
Bagus Sukra datanglah kenakan busana pengakuan
Sambil menyembah ia berseru:
wahai paduka sesembahanku dialah istriku
meski empat bulan lamanya kutinggal
istana pun membara terbakar api dapur juru masak murka
bara kemarahan sang sultan meluap bagai kuah keliru rebusan
memasak keputusan tanpa menyaring kenyataan
tiga prajurit digiring dari dapur kemarahan
menenteng titah seperti pisau dari loyang kekuasaan:
bunuh jangan tanya
tahta tak suka dibohongi
seperti telat tabur bumbu penyedap
kebenaran datang dengan langkah tergesa
aku suci meski pernah bersuami
sang putri membacakan catatan pengakuan
tercekat sang sultan seperti nasi pahit tanpa lauk
dengan wajah pucat mengutus pembatalan
sang adipati bersantap angsa di desa bener
—pindang banyak menari di pinggan sejarah
ki ageng menjamu dengan iringan sopan
tidak tahu siang itu akan berubah menjadi duka panjang
sementara pendapa melintang serupa isyarat maut menunggu
remangremang tiga utusan datang seperti bayangan serba ragu
pertama berdiri seperti patung galau
kedua melambai tapi tiada sempat berseru
lambaian itu—ditangkap sebagai aba-aba membunuh bukan membatalkan
pusaka pun mencabut diri telanjang dari baju warangka sendiri
di udara tubuh gigil sebelum bersarang di dada adipati
darah menyembur bukan marah namun kecewa.
pendapa bersaksi: angin pun terisak
piring-piring berguling berontak menolak lakon ini
dengan napas tercekat antara luka dan putus asa
Adipati bersabda bukan mengutuk, tapi mengingatkan:
-jangan lelungan dina setu pahing
jangan ngingu jaran wulu abrit
jangan mangan pindang banyak
jangan manggon bale malang
disertai peluh darah di dada ia peluk kematian
seperti rindu sahabat lama
di istana
sang sultan tampak beraut sesal dengan elegansi seorang raja terlambat:
ia mencuci tangan bukan darah
tapi rasa bersalah tidak akan luntur
sementara sejarah menulis bahwa
salah tafsir mampu mengorbankan cinta dan kebenaran
DARAH DAN NYANYIAN SEJARAH
: balada terbununya adipati wirasaba
grodjogansewoe, 22.05.2025
dari bilik angin terlihat sang Kartosopo
keluar tanpa suara ia bawa bara dupa abjad purba
di tangan kirinya tampak segenggam pasir pusaka
di tangan kanannya bayangbayang senyap
ia tatap laut tiada goyah seolah mengingat sebuah perjanjian
akulah Kartosopo sang penjaga tanah pesisir
tidak kumiliki siapa pun selain luka
dan doa mewangi dupa
dengan gigigigi pedang pandan jangan engkau langgar
robekrobek kulit tubuh mengucur tinta merah
kutumpahkan kubenamkan dalam jantung bumi
di pelupuk malam camar menyebut namaku
ombak mendekap sisasisa dendam karang
perahuperahu pulang tanpa arah
Pandansimo menangis lewat desir tarian pasir
terbawa angin mengantar ruhku ke gumuk pasir paling sepi
sunyi digarami tangis leluhur
kujejaki jejak telapak kaki pengelana
di antara kidung dan mantra luka
kusapu sisa abu janji berserak di antara
batubatu lupa nama ijinkan
kusisipkan doa ke dalam cangkang kerang
bergaung lirih hingga tepi dunia
aku telanjang di hadapan rembulan
kubiarkan tubuhku dicium angin
samar dari utara datang suara ibu
membawa kisah nelayan hilang
seorang bocah menanam bendera di dada ombak
apakah ini tanah kita jaga atau
kuburan mimpi dibungkus janji
pernah aku simpan jimat di bawah nisan
agar tak ada pengkhianat datang berbisik
tapi malam panjang mengaburkan wajahwajah
datang menyulut bara lalu menghilang
aku hanyalah Kartosopo dari tanah sepi
menakar garam dengan luka
menulis takdir di atas pasir
pernahkah kau dengar?
langit memanggilku dengan bahasa gersang
seribu doa beterbangan seperti layanglayang
bentang benang panjang diputus oleh keputusan
dan tak ada keabadian di pesisir
selain pasir airmata juga pengkhianatan
serta ketabahan para perempuan tua
kehilangan rusuk utama
dari sela waru laut menua
kulihat anakanak memancing di senja kelabu
mereka tertawa belum tahu
tentang gelap tumbuh di balik batu
maka kulantunkan kidung dengan nada tertahan
kusulut dupa menghias langit
semoga ruh para penjaga menemani
mereka pulang dengan utuh
wahai Pandansimo ya Pandansimo
kau bukan sekadar nama di peta
kau adalah luka tak pernah sembuh
tapi pelipur dalam setiap pelukan sunyi
kusematkan tubuhku di gumuk pasir
menanti musim kembali panggil namaku
BALADA PANDANSIMO
klepurba, 20.05.2025
bulan bongkok tua merunduk
di langit kampung sebelah
tubuhnya ditusuk daun kelapa
patah pada pohon lelah
saat laju jalannya terseok
sesampai di punggung pegunungan
berambut ilalang tubuhnya memerah
digarukgaruk duri perdu
dan pucukpucuk ilalang
kini ia tak lagi bersinar gagah
hanya remang bagai lampu
jalan desa tersedak angin malam
hingga ia lupa padam
pada waktunya
dulu ia dipuja dijadikan kalender
puasa penunjuk musim tanam tapi
kini anak-anak lebih percaya
pada layar ponsel bahkan
tak pernah menengadah
ia mengintip dari celah awan
tidak dipotret tidak dijadikan status
hanya disapa jangkrik dan suara kentongan di gardu ronda
makin jarang ditulis sebagai puisi
bulan bongkok tua pernah
jadi saksi lamaran rahasia dan
pernah menyaksikan tangis ibu
saat harga beras naik
lebih cepat dari upah lelaki suaminya
kini ia berjalan lunglai
melewati langitlangit kota
dipenuhi asap pabrik asap knalpot
membawa sinarnya sendiri
semakin redup namun belum tamat
ia tidak pernah mengeluh
dari waktu ke waktu dalam bentang
kabisat maupun masehi
meski punggung bongkok tak ada lagi
menyebut namanya selain penyair kampung
percaya pada luka
BALADA BULAN BONGKOK TUA
klepurba, 04.05.2025
Related Articles