CERBUNG BUKU PUTIH KURAWA, SERI 1: PADANG KEMATIAN DI KURAWA KELABU

Sastra 19 Jun 2026 15:15 5 min read 440 views By Bono Kris

Share berita ini

CERBUNG BUKU PUTIH KURAWA, SERI 1: PADANG KEMATIAN DI KURAWA KELABU
Perang Bharatayuda telah berakhir. Namun sesungguhnya, tidak ada perang yang benar-benar berakhir.

SERI 1: Padang Kematian di Kurawa Kelabu



Perang Bharatayuda telah berakhir.


Namun sesungguhnya, tidak ada perang yang benar-benar berakhir.

Ketika bunyi sangkakala telah berhenti, ketika panji-panji telah roboh dan ketika pedang-pedang telah terlepas dari genggaman tangan yang mati, penderitaan masih berjalan dengan langkahnya yang lambat. Bahkan sering kali, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai setelah kemenangan diumumkan.

Demikian pula yang terjadi di tanah Hastinapura.

Kerajaan besar yang selama berabad-abad menjadi pusat kejayaan para keturunan Bharata itu kini menyerupai seorang raksasa tua yang rebah dengan dada tertembus tombak.

Sunyi.

Begitu sunyi.

Tak terdengar lagi suara gamelan yang dahulu mengalun dari pendapa istana. Tak terdengar lagi suara para dayang yang bercakap-cakap di taman kerajaan. Jalan-jalan batu yang biasanya ramai oleh para pedagang dan ksatria kini kosong melompong seperti jalan menuju kota mati.

Di atas reruntuhan istana, asap hitam masih mengepul.

Asap itu naik perlahan ke langit yang muram.

Seolah-olah hendak menyampaikan keluhan manusia kepada para dewa.

Namun para dewa, seperti biasa, tetap diam.

Di sana-sini masih tampak bara api yang belum padam. Angin petang meniup abu ke segala penjuru. Abu itu beterbangan dan menempel pada puing-puing bangunan yang telah runtuh.

Gapura emas yang dahulu menjadi kebanggaan Hastinapura kini tinggal rangka hangus yang nyaris roboh.

Pilar-pilar batu pecah berantakan.

Ukiran-ukiran indah karya para empu lenyap ditelan api peperangan.

Memang begitulah perang.

Berpuluh tahun manusia membangun.

Hanya diperlukan beberapa hari untuk menghancurkannya.

Dan anehnya, manusia tidak pernah jera mengulanginya.




Padang Kurusetra lebih mengerikan lagi.

Tanah luas yang dahulu hijau kini berubah menjadi lautan kematian.

Mayat-mayat bergelimpangan.

Ribuan jumlahnya.

Mungkin puluhan ribu.

Tak seorang pun sempat menghitung.

Di sana tampak seorang prajurit yang masih menggenggam tombak meski kepalanya telah terpisah dari tubuhnya.

Di tempat lain terlihat seekor kuda perang terkapar dengan mata terbuka lebar seolah masih terkejut menghadapi maut.

Kereta-kereta perang yang dahulu gagah kini tinggal puing-puing kayu dan besi.

Burung-burung gagak berputar-putar di udara.

Kadang meluncur turun.

Mematuk.

Mencabik.

Lalu terbang kembali.

Pemandangan yang cukup untuk membuat seorang pemberani kehilangan selera hidupnya.

Namun semua itu belum seberapa.

Karena ada sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.

Sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada bangkai dan darah.

Roh-roh para korban perang.

Mereka masih berada di sana.




Di atas padang kematian itu tampak bayangan-bayangan hitam berkeliaran tanpa tujuan.

Ada yang melayang.

Ada yang merangkak.

Ada yang berlari seperti orang gila.

Mereka adalah roh-roh para ksatria yang gugur dalam Bharatayuda.

Sebagian besar adalah roh para Kurawa dan sekutunya.

Mereka belum mampu meninggalkan dunia.

Mereka masih terikat oleh rasa sakit.

Oleh kemarahan.

Oleh penyesalan.

Dan oleh satu penderitaan yang tak terlukiskan.

Haus.

Ya.

Haus yang luar biasa.

Haus yang tidak dapat dipadamkan oleh sungai mana pun.

Haus yang membakar jiwa.

Di antara mereka tampak roh Burisrawa.

Ksatria perkasa yang dahulu ditakuti lawan-lawannya.

Kini keadaannya sungguh menyedihkan.

Matanya merah menyala.

Rambutnya kusut.

Mulutnya terbuka lebar.

Lidahnya menjulur seperti anjing yang berlari di tengah gurun.

"Hausss...!"

Ia meraung.

Suara itu membuat udara bergetar.

"Haus...! Air...!"

Namun tak ada seorang pun yang menjawab.

Roh-roh lain ikut menjerit.

"Haus!"

"Haus!"

"Berikan kami air!"

"Aku terbakar!"

"Aku panas!"

"Aku haus!"

Jeritan mereka bersahut-sahutan.

Menggema di seluruh Kurusetra.

Seolah padang kematian itu sendiri sedang menangis.

Tetapi langit tetap membisu.

Mungkin para dewa tidak mendengar.

Atau mungkin mereka mendengar tetapi memilih diam.

Siapa yang tahu isi hati para dewa?

Bahkan para resi pun tidak pernah mampu memahaminya sepenuhnya.




Di tepi sebuah sungai kecil berlutut seorang roh.

Namanya Durgempa.

Adik ketujuh puluh Duryudana.

Semasa hidup ia dikenal sebagai ksatria pemberani.

Tubuhnya tinggi besar.

Ayunan gadanya mampu merobohkan seekor gajah.

Namun sekarang semua kegagahan itu telah hilang.

Ia tampak seperti anak kecil yang tersesat.

Di hadapannya mengalir sungai berwarna merah kehitaman.

Airnya tampak jernih.

Dingin.

Menyegarkan.

Sangat menggoda bagi jiwa yang tersiksa dahaga.

Dengan penuh harapan Durgempa mengulurkan tangan.

Ia meraup air itu.

Tetapi...

Tangannya kosong.

Ia mencoba lagi.

Kosong.

Mencoba lagi.

Tetap kosong.

Tujuh kali ia mengulanginya.

Tujuh kali pula harapannya hancur.

Air itu ada.

Tampak nyata.

Namun tidak dapat disentuh.

Seperti mimpi yang terlihat dekat tetapi tak pernah bisa digapai.

Durgempa memandangi kedua tangannya.

Kosong.

Kering.

Panas.

Dan pada saat itulah keberanian seorang ksatria runtuh.

Air mata mengalir di pipinya.

Tangis yang selama hidup tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

"Dewa-dewa terkutuk!"

teriaknya.

Suaranya menggema.

"Mengapa kalian mempermainkan kami?"

"Mengapa kalian memberi harapan yang tidak dapat diraih?"

"Apa dosa kami?"

"Apa kesalahan kami?"

Tangisnya berubah menjadi kemarahan.

Kemarahan berubah menjadi kebencian.

Dan kebencian mulai menyelimuti seluruh padang Kurusetra seperti kabut hitam.

Namun semua itu masih belum seberapa.

Karena di antara ribuan roh yang tersiksa itu terdapat satu roh yang menyimpan amarah lebih besar daripada lautan.

Amarah yang telah dipupuk bertahun-tahun.

Amarah yang bahkan kematian tidak mampu memadamkannya.

Di tengah tumpukan mayat dan bangkai kereta perang, duduklah seorang lelaki tua dengan kepala tertunduk.

Tubuhnya kurus.

Matanya cekung.

Rambut putihnya terurai panjang menutupi bahu.

Ia tidak berteriak.

Tidak meraung.

Tidak menangis.

Namun justru karena diam itulah ia tampak lebih mengerikan.

Perlahan ia mengangkat wajahnya.

Sepasang matanya menyala merah seperti bara api yang tertiup angin malam.

Di bibirnya tersungging senyum tipis.

Senyum yang membuat roh-roh lain menjauh ketakutan.

Karena mereka mengenal siapa lelaki tua itu.

Mahapatih Hastinapura.

Paman para Kurawa.

Ahli siasat yang sepanjang hidupnya menantang manusia, dewa, bahkan takdir.

Sengkuni.

Dan pada saat itulah, malapetaka yang sesungguhnya baru akan dimulai.


(bersambung)
Rumah Talenta Indonesia